Kalah lagi, kalah lagi..
Lagi-lagi perjalanan para "pejuang" kita terhenti di semifinal turnamen super series. Sedih rasanya melihat Malaysia dan Korea Selatan berdiri bangga di puncak podium, mengangkat tinggi medali berlapis emas yang disematkan di leher mereka, diiringi oleh kumandang lagu kebangsaan mereka yang bergema memenuhi seisi lapangan. Rasanya sudah lama Indonesia tidak berdiri di tempat yang sama dengan mereka.
Ya, Indonesia kembali kalah dalam beberapa super series akhir-akhir ini. Setelah kekalahan memalukan pada Indonesia Open, Timnas badminton Indonesia masih belum dapat bangkit. Prestasi tim "lapis dua" Indonesia di pentas Grand Prix Gold pun masih belum menjanjikan. Pemain kita masih sering kalah mental ketika bertanding sehingga masih sering kalah melawan pemain-pemain yang seharusnya bisa mereka kalahkan karena teknik bermain mereka lebih tinggi.
Apakah Indonesia memang sudah habis? Tidak mampu lagi berprestasi di pentas internasional? Sudah tamat karier bulu tangkisnya?
Sebenernya tidak juga, ada beberapa hal yang membuat hal prestasi kita melempem di pentas dunia, beberapa di antaranya akan saya jabarkan di sini:
1. Indonesia adalah bangsa yang terlena dengan masa lalu
Tak dapat dipungkiri, Indonesia adalah bangsa yang memiliki segudang prestasi di dalam dunia olahraga, terutama pada Badminton. Mulai dari era Rudi Hartono yang legendaris sampai era Susi-Alan-Ricky & Rexy, Indonesia seakan tidak berubah, tetap menjadi momok yang menkautkan bagi lawan-lawannya dalam badminton, termasuk RRC.
Perubahan mulai terjadi pada era Taufik, regenerasi mulai mandek, pola pelatihan dan perekrutan pemain masih belum berubah padahal zaman telah berubah. Kepercayaan diri terhadap pola lama yang telah terbukti sukses ternyata menjadi bumerang bagi perbulutangkisan Indonesia. Pola ini terbukti mulai membuat Indonesia "ketinggalan" dan pelatnas kita masih belum mau berubah.
Man, zaman telah berubah, Bung. Jangan terlena dengan masa lalu. Masa kini, Indonesia sudah mulai "tertinggal" dari bangsa-bangsa lain, terutama Malaysia dan Korea Selatan. Jangan terlena dengan masa lalu, masa kini suda berbeda dengan masa lalu kita harus berani meninggalkan pola-pola lama masa lalu. Bekerja keras kembali, bangun perbulutangkisan kita dari awal lagi.
2. Indonesia masih GAPTEK
Malaysia, Korea Selatan, Denmark, Inggris, dan bahkan Cina telah menggunakan kemajuan teknologi dalam bidang medis dan psikologi untuk menganalisa keadaan pemain, diet pemain yang tepat, dan bahkan untuk menentukan pola latihan yang tepat bagi pemain. Simulasi komputer untuk membantu mengembangkan taktik pemain dan mengenal karakteristik calon lawan turut digunakan untuk melatih pemain yang jauh lebih baik, prinsipnya mirip seperti game PC: Championship Manager (bukan gameplay), hanya saja genrenya badminton. Ilmu diet dan pola latihan turut dikembangkan untuk menunjang kebugaran pemain. Ahli psikologi pun didatangkan untuk mempertahankan mental dan moral pemain dalam keadaan terbaik mereka. Hal yang berbeda terjadi pada pelatnas Cipayung. Meski akhir-akhir ini sudah mulai menggunakan kemajuan teknologi, tetapi semuanya masih dalam taraf yang minim. Pantas saja rasanya Malaysia mampu menyusul kita sekarang, mereka lebih lihai dalam memanfaatkan perkembangan teknologi. Mereka bukan bangsa yang GAPTEK, kita juga bukan kan??
3. Regenerasi yang kurang baik karena sistem yang kurang sesuai dengan zaman ini
Indonesia masih menggunakan pola lama, menunggu atlit berbakat muncul dan mengharumkan nama Indonesia, toh kita punya 200 juta penduduk kan?? :p
Pola ini memang bagus, tapi dulu. Sekarang, realitanya orang berbakat belum tentu mau menjadi atlit badminton karena ekonomi masyarakat Indonesia (jujur saja) yang sudah lebih baik (meskipun sedikit), mereka lebih memilih pekerjaan yang punya jaminan hidup lebih baik, apalagi kalau mereka pintar. Menunggu bukan lagi pilihan tepat untuk zaman ini, Pelatnas tidak bisa lagi menunggu klub-klub badminton di Indonesia mengirimkan atlit-atlit terbaik mereka untuk dilatih karena belum tentu ada bakat sebaik dulu yang bermain di klub mereka. Pelatnas harus merubah pola, dari menunggu menjadi pola jemput bola. Pelatnas harus berani seperti scout dalam klub sepakbola Eropa, mencari sendiri atlit-atlit berbakat yang tersebar di seluruh Indonesia.
Bagaimana caranya? Toh, tidak mungkin bagi mereka untuk mendatangi rumah penduduk 1 per 1 lalu mengajak mereka bermain badminton 1 per 1, terlalu absurd. PBSI cukup membuat turnamen berjenjang, tetapi skalanya nasional dan merupakan turnamen antar sekolah. Hal ini akan memaksa sekolah untuk mencari bakat terbaik yang ada di sekolah untuk dilombakan karena sekolah pasti ingin namanya menjadi harum. Sang pemain bebrakat pun tidak akan menolak bermain, toh
nothing to lose, dibiayai sekolah dan secara psikologi dia masih belum menjadi atlit, beban fisik dan mentalnya berbeda dibanding ketika sang pemain bermain di dalam klub sebagai profesional. PBSI cukup memantau turnamen ini, lalu memperhatikan siapa saja bibit terbaik dim dalam turnamen tersebut yang kelak akan menjadi bakat terbaik bangsa ini.
Turnamennya dapat dibuat simpel seperti berikut:
Turnamen Nasional Antar Sekolah (mewakili sekolah, 6 nomor: tunggal putra, tgl ptri, ganda ptra, gnda ptri, ganda campuran, dan beregu)
- Tahap SD, dibagi menjadi 2 turnamen, untuk kelas 1-3 SD dan untuk kelas 4-6 SD. Pembagian ini bertujuan untuk memberikan persaingan yang lebih adil bagi pemain.
- Tahap SMP, dibuka untuk 1 turnamen, kelas 1-3 SMP.
- Tahap SMA, dibuka untuk 1 turnamen, kelas 1-3 SMA.
Awalnya turnamen dilaksanakan dalam 1 kabupaten, lalu diambil 3/5 terbaik ke propinsi, lalu setiap propinsi mengirimkan 3/5 pemain terbaik ke nasional. Turnamen kabupaten sebaiknya dilaksanakan dalam pola grup (dalam sepakbola mirip liga) agar setiap pemain memperoleh kesempatan bertanding lebih banyak, turnamen ini dilakukan pada semester 2 agar sekolah dapat memperoleh waktu persiapan yang lebih baik (terutama untuk perekrutan anak kelas 1). Turnamen propinsi dan nasional dilakukan pada semester 1 dan bersifat
kalah gugur.
Turnamen Nasional Antar Propinsi
Dibagi menjadi 4 kelompok
- Kelompok usia sub-junior
: Usia 6-12 tahun.
- Kelompok usia junor: 12-15 tahun.
- Kelompok usia post-junior: 15-19 tahun.
- kelompok usia bebas: 6-19 tahun.
Bagaimana pun konsep turnamen ini hanyalah saran saja, tida kaku dan dapat dimodifikasi.
Semoga perbulutangkisan kita semakin maju di amsa depan!